Suasana kian riuh sesaat setelah acara pembekalan KKN
ditutup. Akhirnya semua mendapat kepastian. Anggota kelompok, waktu
keberangkatan, dan daerah penempatan semua sudah dibeberkan oleh pembina bahkan
pengurus-pengurus di kecamatan sampe ke desa-desa semua sudah ditentukan. Meski
daerah KKN lumayan jauh dari daerah asalku bahkan dari kampus tapi ini
pengalaman baru buatku. Apalagi Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Bone katanya
salah satu kecamatan tertinggal yang ada di Kabupaten Bone.
Kenangan Terakhir Ibu
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Cerpen
Read User's Comments(0)
Sahabatku Yang Terbius Indah Duniawi
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Cerpen
Matahari
mulai tertutup awan hitam pertanda hujan kian mendekat. Rama pun bergegas
pulang meski rapat pembentukan panitia kegiatan Pekan Olahraga dikampusnya
belum usai. “Fahmi, aku duluan ya. Soalnya mau hujan nih dan kayaknya hujannya
bakalan deras takut nanti kemalaman kalau mesti tunggu hujannya reda.” Ucap
Rama pamit kepada Fahmi sahabatnya. “Kenapa nggak barengan aja sama aku? Nanti
aku antar.” Tutur Fahmi memberikan saran. “Nggak usah, ada urusan sebentar malam”
jawab Rama sambil berlalu meninggalkan ruang rapat.
CINTAKU TAK SEKOKOH PATUNG LASINRANG DAN TAK SEANARKIS TAWURAN DI MAKASSAR
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Cerpen
Hingga sinar sang raja hari kian menerawang, melenyapkan
redup cahaya rembulan. Aku masih terdiam mematung bersandarkan dinding rapuh
disudut kamar berpetakan 3 x 4 meter. Masih saja kumemikirkan kejadian kemarin.
Betapa berdosanya diriku ini, membuat sepasang mata itu terus bercucuran air
mata. Telah kulukiskan kepedihan yang amat mendalam padanya. Tak dinyana aku
telah berbuat keji pada orang yang telah kujadikan dermaga tempat cinta di
dalam hatiku berlabuh.
Nirwana Cinta
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Kau datang menghampiriku
Membawa sejuta kesejukan
Membinasakan kepedihan hati
Menyeleraskan segala keindahan
Berpadu mewarnai relung hati
Bulir Cinta
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Wajah riang
menyongsong hari
Berwarna
pelangi rona merah delima
Bermandikan
purnama di malam inai
Menyeruak di
keramaian
Menbentangkan
selendang sutra
Berbaur Seiring Senada
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Matahari
berayun tampak jingga
Senda
gurau masih tersiar menyeruak dibalik derau jalanan kota
Sesekali
terdengar cacian dari bibir penghuni rumah pondok
Melaknat
dan mengutuk penguasa terang berhati batu
Langganan:
Postingan (Atom)





