Hingga sinar sang raja hari kian menerawang, melenyapkan
redup cahaya rembulan. Aku masih terdiam mematung bersandarkan dinding rapuh
disudut kamar berpetakan 3 x 4 meter. Masih saja kumemikirkan kejadian kemarin.
Betapa berdosanya diriku ini, membuat sepasang mata itu terus bercucuran air
mata. Telah kulukiskan kepedihan yang amat mendalam padanya. Tak dinyana aku
telah berbuat keji pada orang yang telah kujadikan dermaga tempat cinta di
dalam hatiku berlabuh.
CINTAKU TAK SEKOKOH PATUNG LASINRANG DAN TAK SEANARKIS TAWURAN DI MAKASSAR
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Cerpen
Read User's Comments(0)
Nirwana Cinta
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Kau datang menghampiriku
Membawa sejuta kesejukan
Membinasakan kepedihan hati
Menyeleraskan segala keindahan
Berpadu mewarnai relung hati
Bulir Cinta
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Wajah riang
menyongsong hari
Berwarna
pelangi rona merah delima
Bermandikan
purnama di malam inai
Menyeruak di
keramaian
Menbentangkan
selendang sutra
Berbaur Seiring Senada
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Matahari
berayun tampak jingga
Senda
gurau masih tersiar menyeruak dibalik derau jalanan kota
Sesekali
terdengar cacian dari bibir penghuni rumah pondok
Melaknat
dan mengutuk penguasa terang berhati batu
Senja di Akhir Kisah
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Langit tampak begitu mendung
Kabut tebal menyelimuti pandangan
Awan-awan kepedihan merobek hati
Menyeringai menghancur leburkan rasa kasih cinta
Gelap dalam Terang
Diposting oleh
Unknown
|
Label:
Puisi
Aku terdiam terpaku menyaksikan
peristiwa ini
Tak mampu merontah menyeruak menantang
penguasa terang
Merintih, menangis bergejolak
Meluap-luap penuh derita
Langganan:
Postingan (Atom)





